Oleh: Nunung Nurhafifah (Kakakku)
Lima tahun dari sekarang aku adalah
seorang sarjana science yang aktif bergerak di bidang lingkungan dan
mungkin sedang menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar master..!!!
Sejak kecil aku telah terbiasa hidup
dengan penuh perjuangan, kalimat ini tentu tidak berlebihan apabila mengingat
tahun-tahun sulit yang aku jalani agar dapat terus melanjutkan sekolah. Ketika
duduk di bangku Sekolah Dasar aku harus berjuang melawan rasa malu karena
sering telat membayar SPP, karenanya aku belajar lebih keras dari teman-temanku
yang lain untuk bisa mendapatkan prestasi gemilang. Saat itu aku berpikir bahwa
prestasi yang aku dapatkan akan membuat orang tuaku terus bersemangat mencari
rezeki untuk membayar uang SPP. Ketika liburan sekolah tiba, aku hanya diajak
ayah mendaki bukit saat teman-temanku yang lain pergi berwisata ke berbagai
tempat. Tapi pengalaman diatas bukit itulah yang membuatku bisa seperti
sekarang ini.
Aku menyaksikan keindahan alam dari
atas bukit, hamparan sawah dengan padi yang menguning, deretan hutan pinus yang
menyegarkan mata dan air sungai yang mengalir jernih. Kemudian ayah berkata
padaku “nak, inilah ayat-ayat Allah yang tak tersirat” saat itu aku memang
kurang paham dengan apa yang ayah katakan, tapi aku mengangguk saja agar ayah
tau kalau aku mendengarkannya. Kemudian ayah menyuruhku berbalik ke arah lain
dari bukit, dan pemandangan yang aku saksikan adalah tatanan kota dengan
gedung-gedungnya mulai dari rumah penduduk, perkantoran hingga pabrik-pabrik
yang mengepulkan asap hitam. “suatu saat nanti ketika kamu besar nak, kamu
harus berdiri di garda depan untuk menyelamatkan alam ini. Untuk melindungi
ayat-ayat Allah yang tak tersirat ini” ayah melanjutkan kalimatnya. Aku
sebenarnya memang sangat menyukai pemandangan alam dan landscape yang
bernuansa hijau, tapi hingga saat itu tak pernah terpikir olehku bahwa aku akan
menjadi orang yang langsung turun tangan di bidang lingkungan, aku hanya
berpikir untuk menjadi penikmat saja. Akan tetapi setelah mendengar apa yang
ayah katakan, aku mulai bertekad untuk tidak hanya menjadi penikmat dan gagasan
pertama yang terpikir oleh anak seusiaku saat itu adalah : “aku harus masuk
jurusan IPA ketika duduk di bangku SMA nanti.”
Perjuanganku tak terhenti hanya
sampai disitu, pun ketika aku duduk di bangku SMP hingga SMA perekonomian orang
tuaku tidak juga membaik, apalagi aku hanya terpaut jarak tiga tahun dengan
adikku yang pertama sehingga kami selalu masuk sekolah di tahun yang sama dan
membuat biaya yang harus orang tuaku keluarkan semakin besar (disinilah aku
berpikir kalau program KB amat sangat penting). Tapi ayah selalu berusaha
sekuat tenaga untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya, adikku masuk SMP dan aku
masuk SMA. Sejalan dengan cita-citaku dulu aku pun masuk jurusan IPA dan
belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa melanjutkan studi ke jenjang
Universitas. Untuk bisa menjaga dan menyelamatkan alam ini maka aku harus
memiliki pengetahuan di bidangnya dan aku bisa mendapatkan itu semua di bangku
kuliah, pikirku saat itu.
Lagi-lagi aku dihadapkan pada
kendala yang sudah tak asing lagi, biaya. Ayah mengutarakan kerisauan hatinya
kalau ia mungkin tak akan bisa membiayai kuliahku karena banyak kebutuhan yang
lebih mendesak. Aku hampir putus asa dan menghibur diri dengan mengatakan pada
diriku sendiri bahwa untuk menjaga dan menyelamatkan alam ini tidaklah harus
orang-orang dari kalangan akademisi, aku bisa belajar dari mana saja. Tetapi
disamping itu aku tetap berusaha untuk mewujudkan apa yang telah menjadi
impianku selama ini, aku mencari beasiswa dan Allah memberiku jalan, aku
diterima di sebuah Universitas Negeri di Bandung melalui jalur beasiswa. Entah
bagaimana aku menggambarkan rasa bahagiaku saat itu, aku tau kalau Allah tidak
meninggalkanku, Dia mendengarkan semua do’a-do’aku dan aku melihat jalan yang
terbuka lebar untuk kutapaki demi mewujudkan cita-citaku.
Aku berangkat kuliah dengan
menenteng sekantong besar dagangan yang akan aku jajakan di kampus, (serius,
kantong keresek yang kubawa sangatlah besar) terkadang aku merasa malu
dengan itu semua tapi rasa malu itu aku jadikan motivasi untuk terus maju.
Lagipula aku telah lama berkawan dengan rasa malu tersebut, bahkan sejak usiaku
masih sangat dini. Sebenarnya laba yang kudapatkan tidaklah besar, tapi
tetap kulakukan juga untuk memenuhi kebutuhan kuliah.
Kata-kata andalan yang aku ucapkan pada diri sendiri ketika merasa lelah adalah
“Lumayan buat tambah-tambah..
Disinilah aku sekarang, seorang
mahasiswa tingkat akhir yang sedang berusaha menyelesaikan skripsi dan sedang
menyusun harapan-harapan baru untuk diwujudkan lagi. Aku telah berhasil
mewujudkan mimpiku (yang awalnya aku pikir tak mungkin) sebelum ini, jadi aku
pun pasti bisa mewujudkan mimpiku yang ku susun sekarang. Tak perlu putus asa
melihat kenyataan, aku hanya perlu yakin dan berusaha semaksimal mungkin untuk
mewujudkan mimpi tersebut, karena Tuhan melihat usaha yang aku lakukan bukan
kenyataan yang ada di hadapanku sekarang.
Setelah lulus aku akan bekerja di
sebuah perusahaan yang bonafit sekaligus menjadi seorang aktivis lingkungan dan
5 tahun kemudian aku akan punya cukup tabungan untuk membuka wirausaha yang
memberdayakan masyarakat di desa tempatku tinggal. Singkatnya aku ingin menjadi
orang kaya bukan karena trauma akan keadaan ekonomi keluarga yang tak kunjung
membaik, tapi untuk memenuhi hasrat cinta yang aku miliki untuk alam ini, untuk
saudara-saudaraku di bumi. Orang dengan kehidupan sederhana memang bisa berbuat
baik dan menolong sesama, tetapi seorang yang berpunya akan dapat menolong
lebih banyak lagi (baca:berpunya harta dan berpunya hati). Saya suka menonton
acara realty show yang membahas orang-orang tidak mampu, dengan
kondisiku yang tidak mampu pula maka aku hanya bisa menolong dengan alakadarnya
: do’a. Sedangkan jika aku ada dalam kondisi yang berkecukupan, maka aku bisa
menolong lebih dari sekedar do’a. Aku ingin menyumbangkan lebih dari
sekedar tenaga untuk penangkaran satwa yang ada di Indonesia. Aku ingin
menyumbangkan lebih dari sekedar ide untuk proyek-proyek penyelamatan
lingkungan. Aku juga ingin memberikan kehidupan yang layak untuk orang tuaku
sebagai rasa terima kasih karena telah rela berkorban hati dan tenaga demi
memperjuangkanku. Semua ini bisa aku capai 5 tahun mendatang. Aamiin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar