Kamis, 26 Juni 2014

Bukit Harapan


Oleh: Nunung Nurhafifah (Kakakku)

 
Lima tahun dari sekarang aku adalah seorang sarjana science yang aktif bergerak di bidang lingkungan dan mungkin sedang menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar master..!!!           
Sejak kecil aku telah terbiasa hidup dengan penuh perjuangan, kalimat ini tentu tidak berlebihan apabila mengingat tahun-tahun sulit yang aku jalani agar dapat terus melanjutkan sekolah. Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar aku harus berjuang melawan rasa malu karena sering telat membayar SPP, karenanya aku belajar lebih keras dari teman-temanku yang lain untuk bisa mendapatkan prestasi gemilang. Saat itu aku berpikir bahwa prestasi yang aku dapatkan akan membuat orang tuaku terus bersemangat mencari rezeki untuk membayar uang SPP. Ketika liburan sekolah tiba, aku hanya diajak ayah mendaki bukit saat teman-temanku yang lain pergi berwisata ke berbagai tempat. Tapi pengalaman diatas bukit itulah yang membuatku bisa seperti sekarang ini.
Aku menyaksikan keindahan alam dari atas bukit, hamparan sawah dengan padi yang menguning, deretan hutan pinus yang menyegarkan mata dan air sungai yang mengalir jernih. Kemudian ayah berkata padaku “nak, inilah ayat-ayat Allah yang tak tersirat” saat itu aku memang kurang paham dengan apa yang ayah katakan, tapi aku mengangguk saja agar ayah tau kalau aku mendengarkannya. Kemudian ayah menyuruhku berbalik ke arah lain dari bukit, dan pemandangan yang aku saksikan adalah tatanan kota dengan gedung-gedungnya mulai dari rumah penduduk, perkantoran hingga pabrik-pabrik yang mengepulkan asap hitam. “suatu saat nanti ketika kamu besar nak, kamu harus berdiri di garda depan untuk menyelamatkan alam ini. Untuk melindungi ayat-ayat Allah yang tak tersirat ini” ayah melanjutkan kalimatnya. Aku sebenarnya memang sangat menyukai pemandangan alam dan landscape yang bernuansa hijau, tapi hingga saat itu tak pernah terpikir olehku bahwa aku akan menjadi orang yang langsung turun tangan di bidang lingkungan, aku hanya berpikir untuk menjadi penikmat saja. Akan tetapi setelah mendengar apa yang ayah katakan, aku mulai bertekad untuk tidak hanya menjadi penikmat dan gagasan pertama yang terpikir oleh anak seusiaku saat itu adalah : “aku harus masuk jurusan IPA ketika duduk di bangku SMA nanti.”          
Perjuanganku tak terhenti hanya sampai disitu, pun ketika aku duduk di bangku SMP hingga SMA perekonomian orang tuaku tidak juga membaik, apalagi aku hanya terpaut jarak tiga tahun dengan adikku yang pertama sehingga kami selalu masuk sekolah di tahun yang sama dan membuat biaya yang harus orang tuaku keluarkan semakin besar (disinilah aku berpikir kalau program KB amat sangat penting). Tapi ayah selalu berusaha sekuat tenaga untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya, adikku masuk SMP dan aku masuk SMA. Sejalan dengan cita-citaku dulu aku pun masuk jurusan IPA dan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa melanjutkan studi ke jenjang Universitas. Untuk bisa menjaga dan menyelamatkan alam ini maka aku harus memiliki pengetahuan di bidangnya dan aku bisa mendapatkan itu semua di bangku kuliah, pikirku saat itu.
Lagi-lagi aku dihadapkan pada kendala yang sudah tak asing lagi, biaya. Ayah mengutarakan kerisauan hatinya kalau ia mungkin tak akan bisa membiayai kuliahku karena banyak kebutuhan yang lebih mendesak. Aku hampir putus asa dan menghibur diri dengan mengatakan pada diriku sendiri bahwa untuk menjaga dan menyelamatkan alam ini tidaklah harus orang-orang dari kalangan akademisi, aku bisa belajar dari mana saja. Tetapi disamping itu aku tetap berusaha untuk mewujudkan apa yang telah menjadi impianku selama ini, aku mencari beasiswa dan Allah memberiku jalan, aku diterima di sebuah Universitas Negeri di Bandung melalui jalur beasiswa. Entah bagaimana aku menggambarkan rasa bahagiaku saat itu, aku tau kalau Allah tidak meninggalkanku, Dia mendengarkan semua do’a-do’aku dan aku melihat jalan yang terbuka lebar untuk kutapaki demi mewujudkan cita-citaku.          
Aku berangkat kuliah dengan menenteng sekantong besar dagangan yang akan aku jajakan di kampus, (serius, kantong keresek yang kubawa sangatlah besar)  terkadang aku merasa malu dengan itu semua tapi rasa malu itu aku jadikan motivasi untuk terus maju. Lagipula aku telah lama berkawan dengan rasa malu tersebut, bahkan sejak usiaku masih  sangat dini. Sebenarnya laba yang kudapatkan tidaklah besar, tapi tetap kulakukan juga untuk memenuhi kebutuhan kuliah.    Kata-kata andalan yang aku ucapkan pada diri sendiri ketika merasa lelah adalah “Lumayan buat tambah-tambah..
Disinilah aku sekarang, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang berusaha menyelesaikan skripsi dan sedang menyusun harapan-harapan baru untuk diwujudkan lagi. Aku telah berhasil mewujudkan mimpiku (yang awalnya aku pikir tak mungkin) sebelum ini, jadi aku pun pasti bisa mewujudkan mimpiku yang ku susun sekarang. Tak perlu putus asa melihat kenyataan, aku hanya perlu yakin dan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan mimpi tersebut, karena Tuhan melihat usaha yang aku lakukan bukan kenyataan yang ada di hadapanku sekarang.
Setelah lulus aku akan bekerja di sebuah perusahaan yang bonafit sekaligus menjadi seorang aktivis lingkungan dan 5 tahun kemudian aku akan punya cukup tabungan untuk membuka wirausaha yang memberdayakan masyarakat di desa tempatku tinggal. Singkatnya aku ingin menjadi orang kaya bukan karena trauma akan keadaan ekonomi keluarga yang tak kunjung membaik, tapi untuk memenuhi hasrat cinta yang aku miliki untuk alam ini, untuk saudara-saudaraku di bumi. Orang dengan kehidupan sederhana memang bisa berbuat baik dan menolong sesama, tetapi seorang yang berpunya akan dapat menolong lebih banyak lagi (baca:berpunya harta dan berpunya hati). Saya suka menonton acara realty show yang membahas orang-orang tidak mampu, dengan kondisiku yang tidak mampu pula maka aku hanya bisa menolong dengan alakadarnya : do’a. Sedangkan jika aku ada dalam kondisi yang berkecukupan, maka aku bisa menolong lebih dari sekedar do’a. Aku  ingin menyumbangkan lebih dari sekedar tenaga untuk penangkaran satwa yang ada di Indonesia. Aku ingin menyumbangkan lebih dari sekedar ide untuk proyek-proyek penyelamatan lingkungan. Aku juga ingin memberikan kehidupan yang layak untuk orang tuaku sebagai rasa terima kasih karena telah rela berkorban hati dan tenaga demi memperjuangkanku. Semua ini bisa aku capai 5 tahun mendatang. Aamiin

Selasa, 24 Juni 2014

Training Da'i 1435 H


Bulan suci Romadhon 1435 H akan segera tiba. Kami para santri Pesantren Mahasiswa Masjid Fatimatuzzahra (Pesma Mafaza) akan segera disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk menyambut dan memeriahkan datangnya bulan suci Romadhon. Kegiatan tersebut dinamakan Arofa (Amaliyah Romadhon Fatimatuzzahra). Arofa ini rutin diadakan oleh Masjid Fatimatuzzahra setiap tahunnya. Dan kami para santri pesma akan menjadi panitia dalam mengurus Arofa tersebut. Mulai dari ketua umum, koordinator program, dan susunan panitia secara keseluruhannya terdiri dari kami santri pesma. Tapi karna sumber daya manusia kita terbatas, jadi untuk membantu penyelenggaraan ini juga kami merekruit panitia dari luar pesma. Arofa ini bisa dikatakan sebagai wadah dari berbagai acara yang akan diadakan dari praRomadhon, pasRomadhon, sampai pascaRomadhon. Adapun acara-acaranya yaitu Training Da'i, Pesantren Ramadhan, Pelatihan Pengurusan Jenazah, Seminar Pranikah, Fatimatuzzahra Islamic Competion, Pelatihan Singkat Baca Alquran, Silaturrahim Keluarga Mafaza, Kajian Rutin, Kajian Anak Sholeh, Tarawih Kompatibel, I'tikaf, dan tentunya Buka Puasa, bersama 500 jama'ah cooy. Semua acara tersebut sudah dibagi siapa saja yang menjadi koordinatornya. Dan aku termasuk salah satu yang menjadi koordinator acaranya. Aku diamanahkan untuk menjadi koordinator acara Fatimatuzzahra Islamic Competion (Fiscom). Oya, selain jadi koor aku juga menjadi staff usdanya (usaha dana) Arofa.
Dari sekian banyak acara tersebut, Training Dai menjadi acara pertama yang diselenggarakan. Dalam Training Dai ini kami dari Mafaza mengundang para takmir, imam/khotib, dan dai/aktivis muda dari masjid-masjid se-Barlimascakeb-ayu (Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Bumiayu). Jadi sebelumnya kami santri pesma diberi tugas untuk penyebaran surat-suratnya. Dan kebetulan aku sendiri kebagian menyebarkan surat ke Kebumen. (Jalan jalan meen, singkat cerita saja, sembari tugas menyebar surat ke masjid-masjid yg ada di Kebumen itu, aku sama Mas Sarip maen-maen dulu ke Pantai Pertanahan. Tadinya mau ke Pantai Ayah juga, tapi ga kesampean :D). Adapun acaranya ini berlangsung selama tiga hari, dari Jumat-Ahad, 13-15 Juni 2014.
Saat acara Training Dai ini berlangsung, kebetulan aku ini sedang tidak sehat. Aku sedang sakit flu dan batuk. Dan sakit flu dan batuknya aku tuh suka dibarengi sama sakit kepala yang tak tertahankan *lebay. Tapi emang seperti itulah, nyut-nyutan terus pokonya. Apalagi kalo lagi sujud, beeeuuhhh sakit banget. Jadi, dari awal acara sampai akhir acara tuh aku sambil bersakit-sakit di kepala, dan juga batuk-batuk yang ekstrim. Awalnya aku mau ijin aja ga ikut acara, tapi ahh cemen banget masa gitu doang ga kuat. Jadi bismillah saja aku ikut berproses dalam kegiatan Training Dai ini.
Aku kebagian tugas untuk bantu-bantu bidang kesekretariatan. Untuk tugas awal aku kebagian jaga stand pendaftaran peserta. Stand terbagi berdasarkan kota asal. Dan aku kebagian jaga stand pandaftaran untuk peserta yang berasal dari Purbalingga. Melihat tahun-tahun sebelumnya, peserta dari Purbalingga itu paling banyak. Dan sekarang pun demikian, alhasil sibuklah aku melayani jamaah yang hendak mendaftar untuk mengikuti acara Training Dai. Adapun pesertanya ini terdiri dari bapak-bapak yang sudah cukup berumur, paruh baya, dan ada juga yang masih sekolah tingkat SMA. Jumlah peserta seluruhnya kurang lebih ada 240 jama'ah dari kelas Takmir, Imam/Khotib, dan Da'i/Aktivis Muda. Setelah mengurusi pendaftaran peserta,  tugasku selanjutnya yaitu adalah jaga di tempat informasi dan perizinan. Jadi aku banyak sekali berinteraksi dengan para jamaah. Untuk kerja yang lainnya lebih ke kondisional sih, kalau ada yang bisa dikerjakan yaa dikerjakan saja, tidak hanya terpaku pada tugas yang diberikan. Seperti aku juga suka membantu tim konsumsi dalam menyiapkan minuman dan membagikan makan besar untuk jama'ah.
Ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat aku melayani jamaah-jamaah tersebut. Perasaan haru, senang, bangga, dan rasa-rasa lainnya bercampur aduk dalam hatiku. Subhanalloh. Banyak sekali nikmat dan berkah yang aku dapat dari kegiatan Training Dai ini. Aku jadi dapat pembelajaran bagaimana cara dan etika dalam berinteraksi dengan para jamaah, belajar tanggap dalam setiap permasalahan dengan segera mencari solusinya, semakin memepererat jalinan ukhuwah diantara kami santri-santri pesma, dan yang paling WOW itu makannya cuy *hehe, selama tiga hari itu masalah makan mah terjamin pokonya, hemat uang makan untuk tiga hari. :D